BELAJAR DARI GALAM

Sedikit refreshing aja... Pas buka-buka file, eh ketemu tulisan ini. Sudah lama kubuat, entah untuk kepentingan apa, aku lupa. Sepertinya untuk lomba juga. Rita adalah teman sekampusku waktu kuliah S1. Lama tidak bertemu, eh pas di kantin S2 kami dipertemukan lagi. Alhamdulillah... Ternyata kami berada di semester yang sama saat kuliah S2. Namun, tidak pernah saling ketemu karena dia mengambil jurusan Manajemen Pendidikan, sedangkan aku Pendidikan Biologi. Ternyata sekarang kami sama-sama sudah punya anak satu. Hehe... Alhamdulillah. Meski sudah berkeluarga, karir juga tetap jalan. 



BELAJAR DARI GALAM
Belajar dari galam? Salah ketik kali ya... Apa seharusnya BELAJAR DARI ALAM? Hehe... Tidak, kawan! Judulnya memang begitu. Simak aja!
“Kubuka album biru... Penuh debu dan usang...” senandungku sambil menyetrika jilbab di kamar kos. Ini hari pertamaku  tanpa mama di kamar kos ini. Tentu saja juga hari pertamaku masuk kuliah setelah mengikuti masa orientasi yang menguras mental dan fisik. Kutatap merayap perlahan dinding kamar yang aku huni sekarang.
Aku terperanjat ketika sepasang mataku tertahan di sudut kamar. Ah, agendaku hari ini! Ternyata sore ini ada instruksi dari dosen di kampus. Oh, ya! Namaku Dewi. Aku kuliah di program studi Pendidikan Biologi. Akupun bergegas menyelesaikan setrikaan hari ini dan dengan secepat kilat aku siap berangkat ke kampus. Aku hanya jalan kaki. Jarak kampus dengan kosku dekat banget. Ya sekitar dua menit jalan santai juga sampai.
Alhamdulillah... akhirnya aku sampai juga di kampus dan bertemu dengan teman-teman. Tak lama berbincang, ternyata dosenku sudah datang. Kami pun bergegas berkumpul dan bersusun rapi di taman kampus.
“Assalamu’alaikum Wr. Wb... Sengaja Bapak menyuruh kalian berkumpul hari ini untuk memberitahukan agar kalian nantinya membawa tumbuhan galam. Kenapa? Karena kita sebagai mahasiswa Biologi jadi harus peduli dengan alam. Satu orang wajib membawa satu bibit galam. Bukan hanya sekedar membawa, tapi kita juga akan sama-sama menanamnya dan tiap orang nantinya memeiliki kewajiban menjaga galamnya masing-masing agar tetap tumbuh subur. Jika galamnya mati, maka wajib diganti dengan yang baru. Jika tidak, maka akan berpengaruh terhadap nilai mata kuliah yang Bapak ajarkan.” ucap Pak dosen sore itu.
 Galam (Melaleuca sp) adalah salah satu tumbuhan khas Kalimantan Selatan. Ya, aku sangat setuju dengan instruksi dosenku barusan. Sekarang, tinggal memikirkan ke mana aku harus mencari tumbuhan itu. Waktunya tinggal tiga hari lagi, sedangkan aku di kota ini tidak membawa motor. Jadi, agak kesulitan kesana kemari.
Lagi-lagi aku tertolong. Ternyata ada teman yang berbaik hati dan membawakan galam untukku. Ah, dia baik sekali! Hari ini, aku dan teman-teman dengan senyum ceria menanam galam bersama-sama. Masing-masing dari kami mencari tempat strategis agar tidak terlalu sulit mencari ketika harus menyiramnya setiap hari. Ah, aku memilih lahan di samping jalan setapak dan berada dekat dengan pohon pisang! Kebetulan, jalan setapak itu adalah jalan menuju kosku.
Ternyata teman-teman yang lain juga banyak memilih lahan dekat aku. Di samping kiriku, kulihat Rita dengan telaten menanam galamnya. Meskipun kami baru kenal beberapa hari, tapi bisa kutebak Rita adalah teman yang baik. Dia ulet kalau mengerjakan sesuatu. Selain itu, dia juga rajin serta perhatian bahkan terhadap hal-hal kecil sekalipun.
Sambil berbincang dengan Rita, akhirnya galamku menancap juga. Tak lupa kuberi label kertas dengan namaku di tumbuhan galam itu. Akhirnya, pekerjaan ini selesai juga. Sekarang, tinggal merawat dengan sebaik-baiknya.
Karena kosku yang paling dekat dengan lahan penanaman galam, menjadi hal yang sangat mudah bagiku untuk bisa menyiraminya dengan teratur. Rame juga ya! Tiap sore di kala kampus sepi, kami berdatangan ke kampus untuk menyiram galam-galam itu. Ya, suatu rutinitas yang menciptakan keakraban di antara kami. Yang masih kurang kenal pun, bisa saling mengenal.
Sekarang kuliah sudah semakin padat dengan tugas-tugas dan praktikum. Suatu sore ketika akan menyiram galam milikku, aku terkejut ketika melihat banyak galam yang layu bahkan ada yang mati. Aku pun mempercepat langkah untuk menuju lahan tempat galamku berada. Ternyata, galamku juga mengalami nasib yang sama. Daunnya sudah berjatuhan. Bahkan, sudah ada ciri-ciri hampir mati. Padahal, waktu penilaian sudah semakin dekat.
Galam itu seharusnya diganti. Pikiranku kalut dan bingung harus mencari ke mana. Ingin minta bantu teman-teman, tapi rasanya tidak enak. Aku pun dilanda kebingungan. Ya, sudahlah! Kulihat galam milik Rita juga mulai berubah. Kusiram tumbuhan itu meski keadaannya sudah mulai sekarat.
Keesokan paginya ketika aku berangkat ke kampus, kupijakkan kaki di jalan setapak itu, kutatap lahan penanaman galam. Ada yang galamnya tumbuh subur dan ada juga yang sudah kecoklatan. Namun, aku tercengang ketika menatap dan mencoba mencari di mana galamku berada. Galam yang sekarat itu... di mana oh di mana?
Benar! Ini lahannya. Tepat di samping kanan pohon pisang dan bersebelahan dengan galam Rita. Tapi di mana galamku? Di mana juga galam Rita? Tak ada lagi label nama kami di sana. Anehnya, ada galam baru di sana. Aku tahu persis di mana lahanku. Akan tetapi, kok tega-teganya ada yang mencabut dan mungkin saja sudah membuang galam bernasib malang itu entah ke mana dan sekarang ada yang tega-teganya menanami lahanku dengan galam baru.
Ah, aku benar-benar tak terima! Kucabut galam baru itu, tapi tidak kubuang sih. Wah, aku hampir telat nih! Kulanjutkan perjalanan menuju kampus. Saking sibuknya, sampai-sampai aku lupa memberi tahu Rita bahwa galam kami sudah diganti.
Sorenya, meski perasaan sedikit kesal, aku melangkah menyusuri jalan setapak menuju penanaman galam. Di sana, aku bertemu Rita. Langsung saja kuceritakan tentang nasib galam-galam itu.
“Ta, tadi pagi kan aku lewat di sini. Namun, tak kudapati lagi galam kita. Sudah ada yang menggantinya, Ta. Tega banget orang itu. Mentang-mentang galam kita nasibnya sudah sekarat, eh enak-enaknya diganti dengan galam miliknya.” ceritaku kepada Rita. Kulihat Rita hanya tersenyum. Aneh kawanku ini. Kenapa tak ada ekspresi kesal? Sabar banget dia.

“Dewi, aku yang telah mengganti galam itu.” jawabnya singkat.
Aku tak sanggup berbicara. Hanya terdiam kaku.
“Makanya aku bingung, Wi. Kenapa tiba-tiba galam yang kutanamkan di lahan Dewi tiba-tiba tercabut?” sahut Rita lagi sambil tersenyum.
“Ta, maafkan Dewi ya... Dewi yang telah mencabut galam itu. Dewi pikir...” sahutku agak gugup.
“Wi, nggak apa-apa. Yuk, tanam lagi galamnya dan kita rawat lagi bersama-sama!” potong Rita.
Kami pun menanam lagi galam baru itu dan memberi label nama kami. Tak hentinya kuucap terima kasih kepada Rita, temanku yang baik. Maksudnya mungkin memberi kejutan untukku. Aku saja yang sudah negative thinking sehingga mencabut galam itu.
Sampai sekarang, ketika aku sudah lulus kuliah dan menjadi seorang guru, aku selalu mengingat jasa kawanku itu. Tiap kali bertemu Rita, aku jadi teringat galam. Tiap kali aku mengungkit kembali kebaikannya itu, secepat kilat dia menangkisnya dan tidak mau kebaikannya disebut.
Kini, kami terpisah jauh dengan jalan masing-masing. Namun, dari Rita aku belajar... Belajar bahwa segala kebaikan itu tak harus diceritakan kepada orang lain, tak harus diungkit-ungkit lagi karena dilakukan atas dasar keikhlasan. Selain itu, aku juga belajar bahwa pikiran negatif itu harus dibuang jauh-jauh. Be possitive thinking! Itu intinya. Cerita ini kupersembahkan untuk temanku Rita Rahmayanti. Meski kamu tak mau kebaikan ini diceritakan, tapi bagiku ini patut menjadi pembelajaran. Terima kasih, Rita. Terima kasih Tuhan karena telah mempertemukan aku dengannya.


TATA TERTIB LABORATORIUM IPA

Mengajar di sekolah terpencil, bertahun-tahun memanfaatkan laboratorium alam, hingga akhirnya memiliki laboratorium. Alhamdulillah... Tiap laboratorium (selanjutnya saya singkat lab.) tentunya BAGAIKAN SAYUR TANPA GARAM jika belum memiliki tata tertib lab. Berikut tata tertib lab yang sederhana karena disesuaikan dengan daerah tempat mengajar. Semoga bermanfaat...

TATA TERTIB LABORATORIUM IPA
1.      Siswa wajib datang tepat waktu.
2.      Siswa tidak diperkenankan masuk ke ruang laboratorium tanpa seizin guru.
3.      Siswa diperkenankan masuk ke ruang laboratorium setelah semua peralatan siap dan dalam kondisi layak digunakan.
4.      Siswa tidak diperkenankan membawa makanan/minuman ke ruang laboratorium, kecuali untuk praktikum.
5.      Siswa tidak diperkenankan membawa alat-alat/ bahan praktikum ke luar ruangan laboratorium tanpa seijin guru.
6.      Dilarang mencoret-coret di ruang laboratorium.
7.      Alat-alat/ bahan praktikum harus digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan atau sesuai anjuran guru.
8.      Dalam melakukan praktikum, hendaknya digunakan bahan yang secukupnya.
9.      Jika dalam  praktikum siswa merusakkan/memecahkan alat, maka yang bersangkutan wajib menggantinya.
10.   Jika dalam  praktikum terjadi kecelakaan (kena pecahan kaca, terbakar, tertusuk, tertelan bahan kimia) harap segera melapor kepada guru.
11.  Dilarang mencicipi/memakan sesuatu dalam praktikum kalau guru tidak menyuruh untuk melakukannya.
12.  Bertanyalah pada guru apabila kurang paham tentang praktikum yang akan dilaksanakan.
13.  Label/etiket bahan yang rusak/hilang harap segera dilaporkan kepada guru.
14.  Jagalah kebersihan dan buanglah sampah pada tempatnya.
15.  Jangan bermain-main selama praktikum berlangsung.
16.  Setelah selesai praktikum, alat-alat/bahan hendaknya dikembalikan ke tempat semula dalam keadaan lengkap, bersih, dan siap pakai.
17.  Cuci tangan setelah praktikum berakhir.
18. Sebelum meninggalkan ruang laboratorium, meja praktikum harus dalam keadaan bersih, kursi diletakkan di atas meja, kran air dan gas ditutup rapat, kontak listrik dicabut.

PENGGUNAAN FUTURE WHEELS DALAM PENDEKATAN SETS UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA KONSEP SUMBER DAYA ALAM DI SEKOLAH DASAR

Ini benar-benar LATEPOST! Merupakan salah satu PTK yang saya buat atas bimbingan dosen saya Bpk Dr. H. Muhammad Zaini, M.Pd sewaktu kuliah S1 dulu. Dibuat pada tahun 2009 sebagai salah satu syarat pemilihan mahasiswa berprestasi. PTK ini pulalah yang membawa saya hingga bisa berangkat ke Jakarta pada ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2009 mewakili universitas tercinta, Lambung Mangkurat. Semoga bermanfaat...



PENGGUNAAN FUTURE WHEELS DALAM PENDEKATAN SETS UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA KONSEP SUMBER DAYA ALAM DI SEKOLAH DASAR

(Oleh: Dewi Susanti)

RINGKASAN
Lingkungan belajar yang cukup bervariasi memungkinkan guru membelajarkan materi Sumber Daya Alam dengan mengajak siswa berinteraksi secara langsung dengan lingkungan alami. Pembelajaran ini diharapkan tidak hanya disampaikan secara ceramah, akan tetapi siswa memperoleh proses pembelajaran yang lebih baik dan lebih bermakna. Apabila pembelajaran materi Sumber Daya Alam dibelajarkan dengan mengutamakan interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan alami, maka akan menghasilkan pembelajaran yang bermakna.
Proses pembelajaran yang berlangsung di SDN Landasan Ulin Timur 2 selama ini belum berpusat kepada siswa, dalam proses pembelajaran guru jarang melibatkan siswa, sehingga siswa menjadi kurang aktif dan proses pembelajaran didominasi oleh guru. Dalam proses pembelajaran, guru sering kali hanya menggunakan pendekatan ceramah. Sehingga, dengan kondisi pembelajaran seperti di atas, menyebabkan siswa menjadi kurang aktif. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa dalam pelajaran IPA di sekolah dasar dengan menggunakan Futures wheel dalam pendekatan SETS .
PTK merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya, dan memperbaiki kondisi di mana praktik-praktik pembelajaran tersebut dilakukan. Futures wheel merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk membantu siswa menganalisis dan memahami konsekuensi-konsekuensi dari kejadian-kejadian, inovasi sains dan teknologi/perkembangan masa akan datang. Pendekatan SETS sama halnya dengan pendekatan STM/STS serta pendekatan lingkungan. Pendekatan SETS memiliki kepanjangan Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat.   
Penelitian dilaksanakan di SDN Landasan Ulin Timur 2, siswa kelas IV semester 2 Tahun Pelajaran 2008/2009 mata pelajaran IPA. Tempat penelitian pada siklus 1 ialah di lokasi bekas pengambilan tanah merah di Jalan Peramuan Landasan Ulin Kota Banjarbaru yang berada di sekitar SDN Landasan Ulin Timur 2. Lokasi ini telah berubah menjadi lingkungan yang tidak produktif karena tidak dapat dimanfaatkan lagi oleh masyarakat. Pengambilan tanah merah ini dilakukan secara tradisional dan setelah digali dibiarkan begitu saja sehingga tanah menjadi berlubang-lubang. Tempat penelitian pada siklus 2 terletak di Jalan A. Yani KM 24 Landasan Ulin Banjarbaru yang terletak kurang lebih 0,5 km dari SDN Landasan Ulin Timur 2. Lokasi ini berubah dari daerah rawa sebagai resapan air kemudian direklamasi (penimbunan kembali suatu lahan) untuk dijadikan sebuah pasar.
Data yang diperlukan: hasil penelitian yang tergolong data kuantitatif dilakukan secara deskriptif, yakni dengan menghitung ketuntasan klasikal dan ketuntasan individual dan analisis data hasil penelitian yang tergolong data kualitatif dianalisis secara deskriptif melalui tahapan reduksi data, pemaparan data, dan analisis data. Berdasarkan data kuantitatif, pada siklus 1 peningkatan persentasi hasil belajar pada post tes lebih besar dibanding pre tes. Namun peningkatan ini belum mencapai batas ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan oleh sekolah (>60%). Pada siklus 2 peningkatan persentasi hasil belajar pada post test telah mencapai batas ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan (>60%). Jadi, dapat dikatakan bahwa penggunaan Futures wheel dan pendekatan SETS dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas IV  SDN Landasan Ulin Timur 2 pada konsep sumber daya alam. Ringkasan hasil selama proses pembelajaran berupa tes keterampilan proses melalui LKS sudah menunjukkan kategori cukup pada siklus 1 dan mengalami peningkatan menjadi kategori baik pada siklus 2.
Berdasarkan data kualitatif, guru sudah bisa melepaskan kendali dalam proses pembelajaran meskipun tidak secara sepenuhnya, dengan kata lain guru sudah mengurangi aktivitasnya dan tidak lagi mendominasi pembelajaran. Akan tetapi masih terdapat aktivitas guru yang mengalami peningkatan. 3) Berdasarkan data kualitatif, pembelajaran dapat dikatakan berpusat kepada siswa. Dari sembilan parameter, ada 2 parameter yang mengalami peningkatan dari aktivitas masing-masing siswa yaitu parameter 6 dan 8 . Sedangkan 7 parameter lainnya cenderung tidak konsisten ada yang naik, ada yang turun, dan ada yang tetap dari masing-masing  parameter tersebut. Sedangkan sisanya lagi, ada beberapa parameter yang malah tidak dilaksanakan siswa.
Berdasarkan data respon siswa, dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa merasa senang mengikuti kegiatan pembelajaran karena merupakan hal baru yang sangat membantu mereka belajar. Dengan pembelajaran semacam ini, para siswa dapat menyatakan pendapat untuk menjawab pertanyaan, dapat melakukan penyelidikan/pengamatan untuk menjawab pertanyaan, dan berminat untuk mengikuti kegiatan belajar tersebut. Susunan kalimat, gambar, atau tabel dalam LKS atau buku-buku sumber yang digunakan diakui oleh sebagian besar siswa sangat baik sehingga mudah untuk dipahami.
Jadi, penggunaan Futures wheel dan pendekatan SETS dapat meningkatkan pemahaman siswa pada konsep sumber daya alam di SDN Landasan Ulin Timur 2. Beberapa saran dapat dikemukakan di sini untuk memperbaiki ragam penelitian yang berbasis konstruktivis yaitu perlu diperhatikan instrumen penelitian untuk mengukur hasil belajar siswa perlu dilakukan validasi isi secara mendalam.



HALAU-HALAU, RAKSASA KOKOH DI BALIK AWAN MERATUS





             Kalimantan Selatan (Kal-Sel) menyimpan berbagai panorama yang begitu mempesona. Hanya saja, tidak semua pemandangan surgawi ini tereksplor di khalayak wisatawan. Padahal, jika mereka ingin mencari nuansa eksotis nan berbeda dari tempat wisata lainnya, tentunya patut mencoba destinasi baru yaitu di Kalimantan Selatan. 

          Jangan pernah beralasan bahwa destinasi menuju Kal-Sel sulit dijangkau karena kita memiliki maskapai penerbangan kebanggaan yaitu Garuda Indonesia. Bahkan sejak kecil pun, nama pesawat yang paling familiar di telinga kita adalah Garuda Indonesia. Bagaimana tidak? Di usianya yang memasuki 70 tahun ini, Garuda Indonesia diakui sebagai maskapai penerbangan regional terbaik di dunia, maskapai penerbangan kelas ekonomi terbaik di dunia, dan maskapai penerbangan dengan kru kabin terbaik di dunia. 
http://terbaru.burupromo.com/wp-content/uploads/2014/06/Garuda-Indonesia.jpg 
 Maskapai Garuda Indonesia
            Ada banyak sekali keindahan yang patut kita nikmati di Kal-Sel. Namun, ada objek wisata unik yang akan kami suguhkan. Apakah Anda sudah bosan dengan nuansa pemandangan alam yang itu-itu saja? Apakah Anda jenuh jika hanya duduk santai sambil memanjakan mata? Apakah Anda perlu destinasi yang menantang adrenalin dan memacu otot bisep-trisep? Jika Anda menjawab “ya”, berarti inilah destinasi wisata Kalsel yang patut Anda coba: Puncak Halau-Halau, puncak Pegunungan Meratus tertinggi di Kalimantan Selatan. 

           Perjalanan sekitar tiga jam dari Bandara Syamsuddin Noor memakai mobil, maka kita akan tiba di Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Eitts! Kita belum sampai! Alangkah baiknya di kota ini kita memanjakan lidah dengan kuliner khas Barabai yaitu kue “apam Barabai” dan “iwak pakasam”. 

https://hasanzainuddin.files.wordpress.com/2007/12/pakasam.jpghttp://disporabudpar.hulusungaitengahkab.go.id/gambar_wisata/apam_barabai.jpg
 Kuliner khas Kota Barabai: apam Barabai dan iwak pakasam

         Perjalanan dilanjutkan sekitar 20 km maka kita akan sampai di Desa Batu Tangga, Kecamatan Batang Alai Timur. Di sana Anda bisa menghirup napas sejenak menikmati indahnya bendungan Batang Alai. 

 Bendungan Batang Alai

          Sudah cukup istirahatnya? Yup! Kita akan melewati medan yang mulai menanjak. Sekitar 10 km perjalanan, terdapat air terjun Magalong. Tidak sampai satu jam perjalanan untuk mencapainya. Sekitar 7 km perjalanan berikutnya, terdapat gerbang bertuliskan Desa Wisata Hinas Kiri (Batu Kambar). Di desa ini, juga terdapat air terjun bernama Tumaung yang baru-baru ini menjadi tujuan wisata bagi mereka yang ada di Banjarmasin ataupun kota lainnya. Perlu persiapan fisik yang kuat untuk mencapai tempat ini. Sekali lagi, perjalanan kita masih jauh dan di desa ini kita bisa mengatakan “selamat tinggal” untuk mobil yang telah mengantarkan kita. 

 https://kuninghijau.files.wordpress.com/2013/04/859249_537643336255803_1552870036_o.jpg
 Desa Wisata Hinas Kiri


 
Air terjun Tumaung
 
           Rute berikutnya menuju Desa Kiyu yang tidak bisa lagi diakses oleh kendaraan beroda empat. Perjalanan ini ditempuh dengan motor atau trekking sekitar satu jam. Di desa ini, lagi-lagi kita bisa mengucapkan “goodbye” pada motor yang telah mengantarkan kita karena pada perjalanan berikutnya hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Pyuuuh! Cukup menguras energi. Jangan lupa untuk membawa perbekalan air yang mencukupi atau mengisi perbekalan ketika melewati sungai-sungai kecil. Di desa ini, kita bisa menemukan balai adat dan para penarinya yang berlenggok lincah.

 Jeremi, Efandi, Ramidi, dkk (Para penari balai adat Desa Kiyu)

                 Di Desa Kiyu jangan lupa menyempatkan diri untuk membuat gelang simpai karena di sini akan ditemukan para pengrajin gelang simpai khas Dayak Meratus. Gelang ini langsung dibuat di tangan pemakainya sehingga tidak mudah lepas dan tak bisa berpindah ke lain tangan.
 http://disporabudpar.hulusungaitengahkab.go.id/uploads/simpai2.png
 Pembuatan gelang simpai khas Dayak Meratus

 http://disporabudpar.hulusungaitengahkab.go.id/gambar_wisata/simpai1.png
 Gelang simpai

                 Petualangan yang sesungguhnya kita mulai dari sini! Perjalanan sekitar 16 jam kita tempuh dengan melewati pemandangan luar biasa. Terasa masuk di dalam lambung hutan. Pemandangan nan hijau begitu menyejukkan mata. Gemercik air, hembusan angin, dan nyanyian fauna hutan telah diaransemen sedemikian indahnya hingga lelah tak terasa. Jangan lupa membawa tenda untuk melepas penat selama di perjalanan. Selama di perjalanan, akan kita temui air terjun dengan ketinggian sekitar 80 mdpl. Jangan terkejut jika bertemu dengan pohon-pohon raksasa. Sekali lagi, siapkan fisik baik-baik karena perjalanannya sangatlah terjal. 

 Air terjun Sungai Karuh

          Akhirnya, segala keluh dan kesah kalian akan terobati dengan indahnya puncak Halau-Halau dengan ketinggian 1901 mdpl. Bagi yang suka galau, tidak ada salahnya mencoba trekking yang satu ini karena Halau-Halau mampu menjadi obat galau. Pada tanggal 17 Agustus biasanya akan ada banyak wisatawan yang mendaki puncak ini untuk mengibarkan bendera kebangsaaan Sang Merah Putih. 

          Jadi, meskipun berada di kawasan terpencil, wisata Halau-Halau ini sudah banyak dikunjungi oleh wisatawan baik itu lokal ataupun mancanegara. Berbagai tim ekspedisi pun sering berdatangan, bahkan pernah dilakukan penelitian flora-fauna oleh gabungan ilmuwan beberapa negara. Ditambah lagi, warga sekitar akan dengan senang hati membantu perjalanan Anda.

 Pemandangan sekitar Gunung Halau-Halau


 
 Pemandangan senja dari Bukit Halau-Halau

             Jika Anda ingin menikmati nuansa desa yang sangat eksotis dan hijau, maka patut bagi Anda untuk mengunjungi Desa Juhu. Dengan perjalanan sekitar dua hari dari Desa Kiyu. Maka di sebelah barat Desa Kiyu ini juga akan terlihat Gunung Halau-Halau yang berdiri dengan gagahnya. Wilayah Batang Alai Timur ini sebagian besar dihuni oleh suku Dayak Meratus yang ramah. 

 http://www.pegipegi.com/travel/wp-content/uploads/2014/09/desa-juhu.jpg
 Desa Juhu nan eksotis

           Jadi, tak ada salahnya untuk menelusuri destinasi yang unik ini. Sebagai warga Kal-Sel, ayo kita promosikan destinasi wisata Kal-Sel untuk lebih mengeksplorasi, memperkenalkan, dan memajukan wisata kita tidak hanya secara regional, nasional, tetapi juga ke kancah internasional. Siapkan fisik kalian, my trip my moodbooster


MERINDUKAN BULAN

MERINDUKAN BULAN Gelap! Semuanya terasa gelap. Aku berjalan dengan hati. Mengikuti tongkat jiwa yang jadi penunjuk jalanku. Tiap hari aku mendengar gemercik air, desingan mobil, dan suara-suara di sekelilingku, tapi aku tak pernah melihatnya. Ya, aku seorang gadis buta. Buta sejak dilahirkan sehingga tak pernah tahu bagaimana wajah-wajah orang yang telah membesarkanku. Diusia 5 tahun, ayah dan ibuku meninggal karena sebuah kecelakaan. Memang, hati ini terasa hampa. Untungnya ada nenek yang senantiasa berada di sampingku hingga kini aku berusia 17 tahun. Nenek pula yang menyekolahkanku di sekolah luar biasa. “Dhea, ada Bulan di depan!” panggil nenekku sehingga akupun bergegas menuju ke ruang tamu dengan bantuan tongkatku. Seperti biasa, aku dan Bulan sering berbincang-bincang di teras ketika sore hari. Menurutku, dia anak yang baik meski baru sebulan ini menjadi kawanku. Kami kenal ketika ia membantuku yang terjatuh di jalan. Dia agak pendiam, tapi suka bertanya. Sehingga jika kami bertemu, aku yang suka bercerita panjang lebar dan dia menjadi pendengar setia. Banyak hal yang dia tanyakan tentang kehidupanku dan akupun memang terbuka untuk berbagi cerita. Usia kami yang juga sebaya mungkin menjadi faktor pemicu keakraban kami. Kali ini tak seperti biasanya dia tak menanyakan tentang diriku. Katanya, ada tugas dari sekolahnya dimana dia harus membuat sebuah cerpen. “Dhea, jujur saja aku paling tidak suka dengan yang namanya bercerita. Bisakah kamu membantuku untuk membuatkan cerpen tersebut? Temanya bebas saja. Kamu tinggal bercerita dan aku akan langsung menulisnya. Bagaimana?” pintanya. “Baiklah, tapi aku ingin mencari inspirasi dulu malam ini. Esok datanglah lagi ke sini.” ucapku. Esok sorenya kamipun bertemu lagi. Cerita yang kusuguhkan tidak lain adalah ceritaku sendiri. Cerita tentang kehidupan seorang gadis buta dalam menjalani kehidupan ini. Sepertinya ia puas dan pulang dengan riang hari ini. Sebulan berlalu, tak pernah kudengar lagi suara gadis itu. Ya, suara bulan! Hatiku sempat bertanya-tanya entah apa yang terjadi dengan dirinya. Jika dia bepergian jauh, tentunya mampir di rumahku untuk memberi kabar. Katanya, rumahnya lumayan jauh dari rumahku. Akupun tak bisa untuk mencari rumahnya. Hingga kini, hampir dua bulan tetap tak ada kabar berita tentang bulan. Aku sangat merindukannya. Tiba-tiba saja, aku dikejutkan oleh suara pria yang agak serak. “Apa benar ini rumahnya Dhea Pratiwi?” ucapnya pelan. “Iya, benar.” jawabku. “Ini ada paket dari Jakarta.” sahutnya sambil memintaku untuk tanda tangan. Aku pun bergegas masuk mencari nenek yang sedang memasak di dapur. “Nek, ini ada titipan paket dari Jakarta.” “Sini nenek lihat!” jawab nenekku sambil bergegas membuka paket itu dan membacanya perlahan. “Untuk saudari Dhea Pratiwi, selamat karena cerpen Anda terpilih sebagai juara pertama sayembara cerpen tingkat nasional. Anda diundang ke Jakarta untuk bertemu dengan para penulis di sana. Undangan ada di lampiran. Terima kasih.” nenekku menangis membacanya dan langsung memelukku. Ini saat pertama kalinya aku naik pesawat terbang, tentunya masih dengan nenekku. Perjalanan yang lama hingga akhirnya kami berada di tempat tujuan. Di sana aku diwawancarai dan bahkan ada yang sempat minta tanda tangan. Selama satu bulan aku dan nenekku diminta menginap di Jakarta. Kata mereka, ada program penulisan novel yang diperpanjang dari cerpenku. Tentunya tak begitu sulit karena isinya hampir sama dengan kehidupanku. Setahun berlalu. Aku seperti biasanya duduk-duduk di teras sambil tak henti berharap agar Bulan datang menjengukku. Namun, harapan itu selalu sia-sia. Kehidupanku kini berubah. Semenjak novelku terbit dan menjadi Best Seller, tabunganku kini melebihi cukup untuk kehidupan kami. Tak seperti dulu, nenek harus pontang-panting menjual kue di jalanan. Sekarang, nenek cukup istirahat di rumah karena kami telah menjadi agen pembuat kue yang modalnya tentu saja dari tabungan hasil penjualan novelku. Tiba-tiba di depanku lewat seorang gadis dengan pakaian lusuh, seketika sebuah truk sampah yang melaju menabraknya. Mungkin karena takut, supir truk cepat-cepat membanting setir. Aku terpekik seiring dengan teriakan gadis itu. Kini aku ada di rumah sakit, di samping gadis yang ternyata hanya memiliki satu kaki. Setelah kecelakaan itu, kini ia kehilangan kedua kakinya. Aku tak tega melihatnya. Dua jam berlalu dan kini dia sadar dari pingsannya. Kulihat ia menatapku lekat dan tersenyum penuh arti. Entah kenapa, refleks aku memeluknya. “Dhea...” gumamnya lirih. Aku kenal suara itu. Suara orang yang kurindukan selama ini. Bulan! Ya dia memang bulan! “Bulan, ini benar kamu kan? Aku telah lama menunggumu. Telah lama menantikan kita berbincang-bincang lagi. Mendengar ceritaku...” ucapku sambil berhambur air mata. “Dhea, maafkan aku. Bukannya aku menghilang begitu saja, tapi setelah kudengar kabar bahwa kamu menjadi penulis terkenal dan juga sudah mengoperasi matamu, aku jadi segan dan malu bertemu kembali denganmu. Aku takut kamu tak mau lagi berteman denganku setelah tahu bahwa aku ini hanya gadis pincang yang jelek. “Bulan, aku tak pernah menilai persahabatan serendah itu. Kita manusia sama di hadapan-Nya. Hanya ketakwaan yang membedakan kita. Tak peduli bagaimanapun fisik kita. Bulan, aku sangat berterima kasih atas bantuanmu yang telah mengirimkan cerpenku pada sayembara itu. Aku benar-benar tak tahu. Tanpa kamu, tak mungkin aku bisa seperti ini. Aku bisa melihat alam di sekitarku dan yang terpenting aku bisa melihat wajah manismu, Bulan. Wajah benderang yang telah menyinari hari-hariku.” ungkapku. “Dhea, satu hal yang perlu kau ingat! Jika aku bulan, maka kamu adalah matahari. Cahaya benderang itu memang berasal dari hatimu. Aku sebagai bulan, banya memantulkan cahayamu sehingga bisa menerangi penghuni bumi. Agar mereka bisa mengenalmu dan kamu bisa melihat mereka. Aku hanyalah perantara...” sahutnya lirih. “Oh, bulan...” jawabku sambil memeluknya. Satu jam berlalu setelah aku mengurus semua administrasi pembayaran untuk perawatan bulan. Akupun berencana membelikan kaki palsu untuknya. Kubuka pintu kamarnya sambil kutatap senyum indah anak itu. Kuusap rambutnya lembut agar tak terbangun dari tidurnya. Alangkah terkejutnya aku saat tubuhnya terasa kaku dan dingin. Aku terpekik! Bulan telah menghadap-Nya.

JANJI TEGUH

Nah, d Minggu pagi yg cerah ini, Dw mo share cerpen ya. Cerpen Janji Teguh ini udh lama Dw buat. Ya lbh setahun yg lalu pokoknya. Cerpen ini pernah Dw kirim k harian Banjarmasin Post dan alhamdulillah terbit hari Minggu entah tgl brpa Dw lupa coz waktu itu msh blm langganan koran. Hehe... Taunya bahwa terbit jg pas ngajar d pondok pesantren, ada santriwati yg ngasih tahu. Cerpen yg terinspirasi dari keseharian Dw yg ngajar d daerah terpencil. Pengalaman yg luar biasa. Amazing! Oke deh... Terlalu banyak pengantarnya ya. Huhu... Yuk disimak! JANJI TEGUH Hari ini aku berdiri... Berdiri di hadapan para pembesar itu. Di hadapan pak gubernur, di hadapan para petinggi pemerintahan, pegawai dinas pendidikan, dan tentunya di hadapan ratusan guru. “Teguh!” kudengar MC upacara memanggil namaku. Mereka datang membawa piala bergilir nan besar itu. Aku menyambutnya dan berkesempatan bersalaman dengan pak gubernur. Sungguh ini serasa mimpi bagiku, tapi ini jelas bukan mimpi. Seminggu yang lalu, aku mengikuti perlombaan lari maraton untuk mewakili sekolahku. Sekolah yang letaknya jauh di pegunungan Meratus. Sekolah terpencil, begitu kata mereka. Meski begitu, tak ada yang mampu meruntuhkan niatku untuk bersekolah di sana, satu-satunya SMP di daerah kami. Puluhan kilometer jarak kami tempuh dengan kawan-kawan dari desaku untuk menuju sekolah itu. Perlu waktu sekitar dua jam, karena kami hanya berjalan kaki. Selain karena kami memang tak punya kendaraan bermotor, memang jalan yang kami lalui hanyalah jalan setapak yang tak bisa dilewati oleh motor apalagi mobil. Aku masih ingat ketika Pak Gusti memanggilku untuk mewakili sekolah dalam lomba maraton yang dilaksanakan di kabupaten. Jujur saja, aku tak pernah ke ibukota kabupatenku ini. Hanya tahu nama daerahnya. Perjalanan terjauhku hanya dari rumah hingga ke sekolah. Maklum, tak banyak waktu bagi kami untuk bisa jalan-jalan. Sepulang sekolah, kami langsung membantu orang tua ke ladang atau ke kebun karet. Ada perasaan senang ketika Pa Gusti, kepala sekolah sekaligus guru olahraga kami membawaku ke SMP 1, sekolah favorit anak-anak di kota ini. Senang bisa melihat suasana kota, senang bisa melihat kawan-kawan di sini. Kulihat para peserta lainnya mulai berbaris bersama denganku. Pakaian mereka terlihat baru, begitu pula sepatu mereka, bermerek! Tak jauh dari arena perlombaan, kulihat para orang tua mereka melambai-lambaikan tangan memberi dukungan. Ah, andai kedua orang tuaku masih hidup! Akan tetapi, lamunanku buyar ketika kulihat Pak Gusti menyemangatiku dengan berapi-api di luar sana. Perlombaan pun dimulai. Jarak yang cukup jauh pun kutempuh dengan penuh konsentrasi. Tak terlalu sulit bagiku karena aku sudah terbiasa berjalan jauh sehingga sampai separuh perjalanan, napasku belum terlalu “ngos-ngosan”. Kulihat beberapa kawan yang tadi memimpin di depan, mulai kulewati. Sebentar lagi garis finish. Akupun tambah bersemangat. Tanpa kuduga, ternyata sepatu yang kugunakan tiba-tiba robek di depan. Kelihatan seperti bermulut. Maklum, aku tak mampu membeli sepatu mahal. Kulihat para penonton spontan menertawakanku. Akupun hanya tersenyum. Kulihat Pak Gusti memberikan aba-aba agar aku melepas sepatuku itu. Meski sayang, ya dengan agak berat hati kulepaskan juga sepatu itu. Beberapa kawan sudah menyusul lariku. Kupercepat lariku meski harus menahan sakit karena kakiku menginjak kerikil. Akhirnya, garis finish itu pun bisa kulalui. Kulihat Pak Gusti membuka lebar tangannya dan langsung memelukku erat. “Selamat, Nak! Kamu berhasil.” ucap beliau sambil menepuk-nepuk pundakku. Setelah semua kenangan indah itu berlalu, kini aku sudah berada di alun-alun provinsi. Aku berhasil menjadi juara maraton tingkat kabupaten, provinsi, dan sebentar lagi berangkat ke Jakarta. Tiba giliranku untuk memberi sepatah dua patah kata sebagai ungkapan kemenangan. “Alhamdulillah, saya bisa berada di sini. Suatu kebanggan yang luar bisa ketika bisa menginjakkan kaki di sini. Bertemu dengan orang-orang hebat dan orang-orang petinggi daerah yang selama ini hanya saya kenal namanya lewat guru-guru di pegunungan Meratus sana. Di sini, saya hanya akan bercerita sedikit mengenai sekolah kami. Sekolah yang sangat kami sayangi. Sekolah yang jika kami berangkat dengan pakaian basah, maka akan kering jika kami sudah sampai di sana. Subuh kami berangkat, sore kami sampai di rumah. Maka sungguh sangat bersyukurlah bagi kawan-kawan yang bisa menikmati sekolah di perkotaan. Jangan pernah sia-siakan kesempatan yang dipercayakan orang tua kalian! Pergunakan kesempatan sekolah dengan fasilitas lengkap yang mereka berikan! Jujur, ini perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh. Kami ini hanya anak ladang yang jika sepulang sekolah kami langsung membantu orang tua ke ladang. Jangankan untuk sekedar SMS-an apalagi facebook-an, jaringan HP tak ada di sana. Malam hanyalah waktu untuk tidur karena kami tak punya penerangan. Listrik belum menjamah desa kami. Ya, semoga saja benar-benar “belum”. Artinya, masih ada kemungkinan listrik itu kami nikmati. Meskipun begitu, ada banyak hal yang membuat kami jatuh cinta dengan sekolah itu diantaranya adalah lapangan voli dan kebaikan guru-guru di sana. Lapangan voli yang sangat kami sukai meski harus antri untuk memakainya. Tak peduli panas menyengat tubuh kami, tak peduli hujan yang mengguyur hingga basah dan becek sepatu kami. Guru-guru yang kami cintai yang telah memberi semangat tak berhingga kepada kami sehingga termotivasi agar bisa seperti kalian dan setidaknya tak jauh beda dengan kawan-kawan di kota. Terima kasih... terima kasih untuk guru-guruku. Terima kasih telah rela menemani hari-hari kami di sekolah terpencil itu. Terima kasih... Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional” ucapku tanpa bisa meneruskan lagi karena air mataku hampir menetes melihat Pak Gusti yang matanya mulai berkaca-kaca. Kudengar riuh sorak peserta upacara hari itu. Kulihat Pak Gusti membawakan kado untukku. Aku hampir terpekik karena senang melihat isi kado itu adalah sepatu bututku yang ternyata masih disimpan Pak Gusti. Sepatu pemberian almarhum orang tuaku. Sepatu yang penuh kenangan. Sepatu yang selama dua tahun ini menemaniku menerobos belantara dan terjalnya jalan di pegunungan Meratus. Di dalam hati aku berjanji, minimal untuk diriku sendiri, akan kuabdikan diriku untuk lebih menanamkan nilai pendidikan di negara ini. Aku akan menjadi guru. Guru di daerah pedalaman agar bisa membina anak-anak sana supaya tak jauh ketinggalan dengan mereka di kota. Ya, pendidikan memang sangat penting. Kadang aku bingung kenapa kawan-kawan di kota sana masih ada saja yang menyia-nyiakan segala kemudahan dan fasilitas yang telah mereka dapatkan. Tawuran antarpelajar, narkoba, bahkan free sex sudah menjamah para remaja kita. Tak hanya di kota, kini mulai merambah ke desa. Semoga saja kita semua bisa memaknai Hari Pendidikan Nasional ini bukan hanya sebagai hari peringatan semata, tapi bisa menjadikannya cermin untuk melakukan refleksi ke depannya agar bisa membangun moral bangsa yang lebih baik. Semoga kawan-kawan yang mendengar ungkapan hati anak desa ini merasa tergugah untuk lebih memperhatikan nasib kami, anak-anak di daerah terpencil. Amiin...

Sekilas Info

Hmmm... malam Minggu ya...
Kadang, ga sadar jg klo malam Minggu. Hehe...
Udah lama ga mengunjungi blog. Bikin blog ini tahun 2009, pas masih mahasiswa tuh! Hehe... Sekarang udh kerja.

Kadang bingung mo nulis apa. Tp kalau ditulis, ya jadilah sebuah tulisan.
Sebenarnya bukan karena malas ngunjungi blog ini. Masalahnya, Dewi tuh sering lp password pas mau masuk. Hehe...

Dewi punya seh stok cerpen n puisi. Cieee... Stok ya! Kaya banyak aja. Tp lumayanlah.
Nah, esok kan hari Minggu neh. Insya Allah Dewi mo share cerpen n puisi Dewi d sini. Sekarang mo bobo dulu. Maaf, ini cuma sekilas info. Hehehe...
Good night... 